Kamis, April 16, 2026
  • Kontak
Karang Taruna Kelurahan Kandai
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah & Latar Belakang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Program Unggulan
  • Pelestarian Situs Sejarah
    • Peta & Daftar Situs Bersejarah di Wilayah Kami
    • Program Pelestarian (gotong royong, dokumentasi digital, edukasi masyarakat)
    • Kolaborasi dengan Dinas Kebudayaan / Komunitas
    • Dokumentasi Kegiatan Pelestarian
  • UMKM
    • Direktori UMKM Binaan Karang Taruna
    • Produk Unggulan Lokal (kerajinan, kuliner, jasa, dll.)
    • Program Inkubasi & Pelatihan UMKM
  • Program
    • Sosial & Kemanusiaan
    • Pendidikan & Pelatihan
    • Olahraga & Seni
    • Lingkungan & Kebersihan
    • Kampanye Budaya Lokal
  • Berita
    • Berita Kegiatan Karang Taruna
    • Info Event & Lomba
    • Artikel Inspiratif Pemuda
    • Informasi Bantuan & Program Pemerintah
  • Galeri
    • Foto Kegiatan
    • Video Dokumentasi
    • Arsip Media
  • Kemitraan
    • Mitra Pemerintah & Swasta
    • Komunitas Sejarah & Budaya
  • Login
No Result
View All Result
Karang Taruna Kelurahan Kandai
Home Artikel Inspiratif Pemuda

Makam Peninggalan Belanda

Admin by Admin
Oktober 20, 2025
in Artikel Inspiratif Pemuda
0
Makam Peninggalan Belanda
0
SHARES
19
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Jejak Arkeologis Kolonial yang Terlupakan di Kota Lama Kendari

Makam peninggalan Belanda yang berada di Kelurahan Kandai, Kota Lama Kendari, merupakan salah satu jejak arkeologis penting dari masa kolonial di Sulawesi Tenggara. Kawasan ini sejak awal abad ke-20 menjadi pusat pemerintahan dan aktivitas ekonomi Belanda setelah mereka mulai menetap secara permanen di Kendari sekitar tahun 1910–1920-an. Di area ini dibangun pelabuhan, sekolah Tionghoa, kantor dagang, serta pemukiman bagi pejabat dan keluarga Eropa. Di tengah pemukiman tersebut pula kompleks makam Belanda didirikan sebagai tempat pemakaman keluarga kolonial yang tinggal di Kendari. Letaknya kini berada di lingkungan padat penduduk, tepatnya di sekitar Jalan WR. Supratman, Kelurahan Kandai, berjarak sekitar 8,3 km dari pusat kota Kendari. ekspansi kekuasaan mereka di bagian timur Nusantara pada awal abad ke-20. Berbeda dengan wilayah-wilayah lain di Jawa atau Sumatera yang telah lama dikuasai, Sulawesi Tenggara baru menjadi perhatian serius ketika Belanda menyadari potensi ekonomi dan strategis wilayah ini. Teluk Kendari yang dalam dan terlindung menjadikannya lokasi ideal untuk pelabuhan transit perdagangan hasil bumi seperti kopra, rotan, damar, dan kayu dari pedalaman Sulawesi.

Related posts

WATER RESERVOIR PENINGGALAN BELANDA PADA TAHUN 1928 DI KOTA KENDARI

WATER RESERVOIR PENINGGALAN BELANDA PADA TAHUN 1928 DI KOTA KENDARI

Oktober 20, 2025
Situs Sekolah Cina

Situs Sekolah Cina

Oktober 20, 2025

Pada periode 1910–1920-an, Belanda mulai membangun infrastruktur permanen di Kendari. Tidak seperti pos-pos militer sementara yang didirikan di wilayah konflik, Kendari dikembangkan sebagai pusat administratif dan komersial yang lengkap. Pemerintah kolonial mendirikan kantor controleur (pengawas wilayah), gudang perdagangan, dermaga, dan jalan-jalan yang menghubungkan pelabuhan dengan pedalaman. Bersamaan dengan itu, mulai berdatangan keluarga-keluarga Belanda—istri dan anak-anak para pejabat—yang menjadikan Kendari sebagai tempat tinggal jangka panjang, bukan sekadar pos tugas sementara.

Kehadiran keluarga kolonial ini mengubah karakter pemukiman Belanda di Kendari. Mereka memerlukan fasilitas-fasilitas sipil seperti sekolah, gereja, rumah sakit sederhana, dan tentu saja, tempat pemakaman. Kompleks makam Belanda di Kandai lahir dari kebutuhan ini—sebagai ruang sakral untuk menghormati anggota komunitas kolonial yang  meninggal  jauh  dari  tanah  air  mereka.  Pemakaman  ini  tidak  hanya  berfungsi religius, tetapi juga sosial, menjadi penanda kehadiran  fisik dan simbolik komunitas Eropa di tengah lanskap lokal yang asing.

Lokasi  pemakaman  dipilih  dengan  pertimbangan  tertentu.  Ia  berada  di kawasan pemukiman Eropa, tidak jauh dari pusat administratif, namun juga agak terpisah—sesuai dengan konsep pemakaman Eropa yang menghendaki ruang tenang dan terpisah dari hiruk pikuk kehidupan sehari-hari. Kawasan Kandai pada masa itu masih relatif lapang, dengan pemandangan ke arah teluk, menciptakan suasana yang tenang dan kontemplatif.

Karakteristik Arkeologis dan Arsitektur Makam

Berdasarkan  penelitian  Kiki  Rukmana  &  Syahrun  (2022)  dalam  Sangia: Jurnal Penelitian Arkeologi, kompleks makam ini awalnya berjumlah 35 makam, dengan bentuk nisan yang sangat beragam seperti segitiga, kubus, persegi panjang, melengkung, hingga   menyerupai   monumen.   Bahan   utamanya   berupa   batu   bata   dan   semen, mencerminkan gaya konstruksi kolonial akhir. Arah makam pun tidak seragam: ada yang menghadap selatan–utara, timur–barat, dan sebaliknya.

Keberagaman bentuk nisan ini menarik untuk dicermati. Dalam tradisi pemakaman Eropa, bentuk dan desain nisan sering mencerminkan status sosial, afiliasi religius, dan periode waktu pemakaman. Nisan berbentuk segitiga atau obelisk umumnya populer pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, melambangkan aspirasi spiritual yang  menjulang  ke langit.  Bentuk  kubus  atau persegi  panjang yang  lebih  sederhana biasanya digunakan untuk makam anak-anak atau keluarga dengan status ekonomi menengah. Sementara nisan yang menyerupai monumen—dengan ukuran lebih besar dan detail  ornamental—menandakan  kedudukan  sosial  yang  lebih  tinggi,  kemungkinan pejabat tinggi atau pengusaha terkemuka.

Penggunaan batu bata dan semen sebagai material utama konsisten dengan praktik konstruksi kolonial di Hindia Belanda pada periode tersebut. Batu bata merah, yang diproduksi secara lokal atau diimpor, menjadi material standar untuk berbagai jenis bangunan kolonial karena ketahanannya terhadap iklim tropis yang lembab. Semen Portland, yang mulai umum digunakan sejak akhir abad ke-19, memberikan kekuatan struktural dan kemampuan membentuk detail ornamental yang lebih halus dibandingkan batu atau kapur tradisional.

Orientasi makam yang tidak seragam juga mengandung informasi penting. Dalam tradisi Kristen Eropa, makam biasanya diorientasikan timur-barat, dengan kepala menghadap ke barat dan kaki ke timur, melambangkan kebangkitan pada hari kiamat ketika Kristus datang dari timur. Namun variasi orientasi di kompleks Kandai menunjukkan beberapa kemungkinan: pertama, keterbatasan ruang yang memaksa penyesuaian; kedua, perbedaan denominasi Kristen yang memiliki tradisi berbeda; atau ketiga, perubahan konsep dan praktik pemakaman sepanjang periode kolonial yang mempengaruhi tata letak.

Inskripsi   pada   nisan   sering   menggunakan   bahasa   Belanda,   beberapa menyebut usia dan tahun kematian, seperti yang terlihat pada nisan yang menunjukkan kemungkinan penghuninya adalah remaja keturunan Belanda berusia 17 tahun. Inskripsi- inskripsi ini, meskipun sederhana, adalah jendela berharga ke dalam kehidupan personal komunitas kolonial. Mereka menyebut nama, tanggal lahir dan wafat, kadang juga hubungan kekeluargaan atau kata-kata memorial yang menyentuh.

Kehadiran  makam  remaja  berusia  17  tahun,  misalnya,  mengingatkan  kita pada realitas keras kehidupan kolonial—terutama bagi keluarga Eropa yang harus menghadapi penyakit tropis, terbatasnya fasilitas medis, dan kondisi higienis yang belum memadai. Angka kematian anak dan remaja di koloni-koloni jauh lebih tinggi dibandingkan di Eropa. Malaria, disentri, demam berdarah, dan berbagai penyakit infeksi lainnya  menjadi  ancaman  konstan.  Bagi  keluarga  kolonial,  kehilangan  anak  adalah tragedi yang harus mereka tanggung jauh dari keluarga besar dan sistem dukungan sosial di tanah air.

Kondisi Saat Ini: Ancaman dan Tantangan Pelestarian

Kondisi makam kini banyak yang rusak: nisan hilang, kijing retak, sebagian tertutup  vegetasi,  bahkan  ada yang  tulangnya telah  dipindahkan  oleh keturunan  atau masyarakat  sekitar.  Kerusakan  ini  adalah  hasil  dari  berbagai  faktor  yang  saling berinteraksi selama puluhan tahun.

Pertama  adalah  faktor  alamiah.  Iklim  tropis  Kendari  dengan  curah  hujan tinggi dan kelembaban udara yang konstan mempercepat pelapukan material bangunan. Batu bata yang terpapar air hujan secara terus-menerus akan mengalami erosi permukaan, sementara semen akan retak karena perubahan suhu dan penetrasi akar tanaman. Vegetasi liar—rumput, semak, bahkan pohon kecil—tumbuh di sekitar dan bahkan di atas makam, akarnya menembus celah-celah struktur dan mempercepat kerusakan.

Kedua  adalah  faktor  antropogenik  atau  aktivitas  manusia.  Perkembangan Kota  Kendari  yang  pesat  sejak  kemerdekaan  Indonesia  telah  mengubah  Kelurahan Kandai dari kawasan pinggiran menjadi wilayah perkotaan yang padat. Lahan-lahan kosong  di  sekitar  kompleks  makam  bertransformasi  menjadi  pemukiman  penduduk, jalan-jalan, dan bangunan komersial. Tekanan ruang ini kadang membuat kompleks makam terjepit, bahkan sebagian mungkin telah tertutup oleh pembangunan baru.

Aktivitas masyarakat sekitar juga berkontribusi pada kerusakan. Tanpa pengawasan dan kesadaran akan nilai historis, beberapa nisan mungkin dipindahkan atau bahkan diambil materialnya untuk keperluan lain. Praktik pemindahan tulang oleh keturunan atau masyarakat setempat, sebagaimana disebutkan dalam teks, menunjukkan

kompleksitas sosial dalam pengelolaan situs ini. Bagi sebagian orang, terutama yang tidak memiliki keterkaitan historis dengan komunitas Belanda, kompleks makam ini mungkin hanya dianggap sebagai lahan kosong atau bahkan menimbulkan ketidaknyamanan spiritual.

Ketiga adalah absennya upaya pelestarian sistematis. Fakta bahwa situs ini belum ditetapkan sebagai cagar budaya resmi berarti tidak ada kerangka legal dan institusional  untuk  melindunginya.  Tidak  ada  anggaran  untuk  perawatan,  tidak  ada petugas yang bertanggung jawab untuk pengawasan, dan tidak ada sanksi bagi pihak- pihak yang merusak. Dalam konteks prioritas pembangunan daerah, situs-situs kolonial sering kali berada di urutan bawah dibandingkan dengan pembangunan infrastruktur dan fasilitas publik modern.

Nilai Historis dan Arkeologis

Makam Belanda di Kandai memiliki nilai sejarah tinggi sebagai saksi keberadaan komunitas kolonial non-militer di Kendari, terutama keluarga pejabat dan pedagang Eropa yang hidup berdampingan dengan komunitas lokal dan Tionghoa. Keberadaan makam ini memperlihatkan bahwa Kota Lama Kendari bukan hanya pos militer, tetapi juga pusat pemukiman dan aktivitas sipil kolonial.

Dari perspektif sejarah lokal, kompleks makam ini melengkapi narasi pembentukan Kota Kendari modern. Bersama dengan situs-situs lain seperti Sekolah Tionghoa, pelabuhan lama, dan bangunan-bangunan kolonial lainnya, makam Belanda menjadi  bagian  dari  jejak  material  yang  menunjukkan  bagaimana  Kendari bertransformasi dari permukiman pesisir tradisional menjadi kota kolonial dan akhirnya menjadi ibu kota provinsi modern.

Dari perspektif arkeologi kolonial, situs ini menawarkan data primer tentang praktik  pemakaman,  konstruksi  material,  dan  kehidupan  sosial  komunitas  Eropa  di wilayah pinggiran Hindia Belanda. Kebanyakan penelitian tentang masa kolonial terfokus pada pusat-pusat besar seperti Batavia, Surabaya, atau Makassar. Situs-situs di kota kecil seperti Kendari memberikan perspektif berbeda—menunjukkan bagaimana kolonialisme beroperasi di tingkat lokal, bagaimana komunitas kolonial kecil mengorganisir kehidupan mereka, dan bagaimana mereka berinteraksi dengan populasi lokal.

Data inskripsi pada nisan, jika didokumentasikan dan dianalisis secara sistematis, dapat mengungkap informasi genealogis yang berharga. Siapa saja orang- orang Belanda yang dimakamkan di sini? Dari mana asal mereka di Belanda? Apa posisi dan  pekerjaan  mereka?  Berapa  lama  mereka  tinggal  di  Kendari?  Apakah  mereka memiliki keturunan yang masih hidup? Pertanyaan-pertanyaan ini dapat dijawab melalui

penelitian arsip yang menggabungkan data inskripsi makam dengan dokumen-dokumen kolonial yang tersimpan di arsip nasional Indonesia maupun di Belanda.

Lebih   jauh  lagi,   studi   komparatif  dengan   kompleks-kompleks   makam Belanda  di  kota-kota  lain  di  Indonesia  dapat  mengungkap  pola-pola  regional  dalam praktik pemakaman kolonial. Apakah ada perbedaan signifikan antara makam di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi? Bagaimana faktor-faktor lokal—seperti material yang tersedia, tradisi pemakaman setempat, atau kondisi demografis komunitas kolonial— mempengaruhi bentuk dan organisasi pemakaman?

Urgensi Pelestarian dan Rekomendasi

Sayangnya, situs ini belum ditetapkan sebagai cagar budaya resmi, sehingga kondisinya terus terancam oleh pembangunan permukiman modern dan kurangnya perawatan. Padahal, jika dilestarikan, kompleks makam ini bisa menjadi sumber primer penting untuk penelitian arkeologi kolonial, sejarah lokal Kendari, dan jejak genealogis komunitas Belanda di luar pusat-pusat besar Hindia Belanda.

Upaya  pelestarian  harus  dimulai  dengan  penetapan  resmi  sebagai  cagar budaya oleh pemerintah daerah atau Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Penetapan ini akan memberikan perlindungan legal terhadap situs dan membuka akses  terhadap dana pelestarian. Selanjutnya, perlu dilakukan  dokumentasi sistematis—termasuk fotografi, pengukuran arsitektural, dan pencatatan lengkap semua inskripsi—sebelum kerusakan semakin parah.

Pelibatan  masyarakat  lokal  juga  krusial.  Program  edukasi  tentang  nilai historis  kompleks  makam  dapat  menumbuhkan  rasa  memiliki  dan  tanggung  jawab kolektif untuk melindungi situs. Masyarakat sekitar dapat diajak menjadi guardian situs, membantu pemeliharaan dasar seperti membersihkan vegetasi liar dan melaporkan tindakan-tindakan yang merusak.

Kerjasama dengan institusi akademik, terutama program studi arkeologi, sejarah, dan arsitektur, dapat menghasilkan penelitian-penelitian mendalam yang tidak hanya bermanfaat secara ilmiah, tetapi juga menghasilkan publikasi dan materi edukatif untuk publik. Mahasiswa dapat melakukan skripsi atau tesis tentang situs ini, yang hasilnya dapat digunakan sebagai dasar kebijakan pelestarian.

Dalam jangka panjang, kompleks makam Belanda di Kandai dapat diintegrasikan ke dalam jalur wisata sejarah Kota Kendari. Bersama dengan Sekolah Tionghoa, pelabuhan lama, dan situs-situs kolonial lainnya, ia dapat membentuk narasi komprehensif tentang sejarah kolonial kota ini. Wisata sejarah semacam ini tidak hanya memiliki  nilai  edukatif,  tetapi  juga  ekonomi,  dapat  menciptakan  lapangan  kerja  dan meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya pelestarian warisan budaya.

Kompleks Makam Belanda di Kandai adalah lebih dari sekadar kumpulan batu nisan tua. Ia adalah arsip material yang menyimpan cerita-cerita pribadi dan kolektif, sukacita dan dukacita, kehidupan dan kematian dari komunitas yang pernah menjadi bagian dari sejarah Kendari. Melindungi dan melestarikannya adalah kewajiban kita terhadap   masa  lalu,  sekaligus  investasi  untuk  pendidikan  dan  identitas  generasi mendatang. Dalam era globalisasi yang cenderung homogen ini, warisan lokal yang unik seperti kompleks makam Belanda menjadi semakin berharga sebagai penanda identitas dan kontinuitas historis Kota Kendari.

Previous Post

Peninggalan Sejarah : Baterai Mata

Next Post

Situs Sejarah Penjara Kolonial

Next Post
Situs Sejarah Penjara Kolonial

Situs Sejarah Penjara Kolonial

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RECOMMENDED NEWS

Bangunan Pesanggrahan Kota Kendari: Jejak Arsitektur Kolonial dan Tantangan Pelestariannya

Bangunan Pesanggrahan Kota Kendari: Jejak Arsitektur Kolonial dan Tantangan Pelestariannya

6 bulan ago
Situs Sejarah Penjara Kolonial

Situs Sejarah Penjara Kolonial

6 bulan ago
Makam Peninggalan Belanda

Makam Peninggalan Belanda

6 bulan ago
WATER RESERVOIR PENINGGALAN BELANDA PADA TAHUN 1928 DI KOTA KENDARI

WATER RESERVOIR PENINGGALAN BELANDA PADA TAHUN 1928 DI KOTA KENDARI

6 bulan ago

FOLLOW US

BROWSE BY CATEGORIES

  • Artikel Inspiratif Pemuda
  • Berita Kegiatan Karang Taruna

POPULAR NEWS

  • Bangunan Pesanggrahan Kota Kendari: Jejak Arsitektur Kolonial dan Tantangan Pelestariannya

    Bangunan Pesanggrahan Kota Kendari: Jejak Arsitektur Kolonial dan Tantangan Pelestariannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Situs Sejarah Penjara Kolonial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Peninggalan Sejarah : Baterai Mata

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • WATER RESERVOIR PENINGGALAN BELANDA PADA TAHUN 1928 DI KOTA KENDARI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Situs Sekolah Cina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kontak

© 2025 Karang Taruna Kelurahan Kandai - All Right Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah & Latar Belakang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Program Unggulan
  • Pelestarian Situs Sejarah
    • Peta & Daftar Situs Bersejarah di Wilayah Kami
    • Program Pelestarian (gotong royong, dokumentasi digital, edukasi masyarakat)
    • Kolaborasi dengan Dinas Kebudayaan / Komunitas
    • Dokumentasi Kegiatan Pelestarian
  • UMKM
    • Direktori UMKM Binaan Karang Taruna
    • Produk Unggulan Lokal (kerajinan, kuliner, jasa, dll.)
    • Program Inkubasi & Pelatihan UMKM
  • Program
    • Sosial & Kemanusiaan
    • Pendidikan & Pelatihan
    • Olahraga & Seni
    • Lingkungan & Kebersihan
    • Kampanye Budaya Lokal
  • Berita
    • Berita Kegiatan Karang Taruna
    • Info Event & Lomba
    • Artikel Inspiratif Pemuda
    • Informasi Bantuan & Program Pemerintah
  • Galeri
    • Foto Kegiatan
    • Video Dokumentasi
    • Arsip Media
  • Kemitraan
    • Mitra Pemerintah & Swasta
    • Komunitas Sejarah & Budaya

© 2025 Karang Taruna Kelurahan Kandai - All Right Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Powered by
►
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
►
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
►
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
►
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
►
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
None
Powered by