Jejak Arkeologis Kolonial yang Terlupakan di Kota Lama Kendari
Makam peninggalan Belanda yang berada di Kelurahan Kandai, Kota Lama Kendari, merupakan salah satu jejak arkeologis penting dari masa kolonial di Sulawesi Tenggara. Kawasan ini sejak awal abad ke-20 menjadi pusat pemerintahan dan aktivitas ekonomi Belanda setelah mereka mulai menetap secara permanen di Kendari sekitar tahun 1910–1920-an. Di area ini dibangun pelabuhan, sekolah Tionghoa, kantor dagang, serta pemukiman bagi pejabat dan keluarga Eropa. Di tengah pemukiman tersebut pula kompleks makam Belanda didirikan sebagai tempat pemakaman keluarga kolonial yang tinggal di Kendari. Letaknya kini berada di lingkungan padat penduduk, tepatnya di sekitar Jalan WR. Supratman, Kelurahan Kandai, berjarak sekitar 8,3 km dari pusat kota Kendari. ekspansi kekuasaan mereka di bagian timur Nusantara pada awal abad ke-20. Berbeda dengan wilayah-wilayah lain di Jawa atau Sumatera yang telah lama dikuasai, Sulawesi Tenggara baru menjadi perhatian serius ketika Belanda menyadari potensi ekonomi dan strategis wilayah ini. Teluk Kendari yang dalam dan terlindung menjadikannya lokasi ideal untuk pelabuhan transit perdagangan hasil bumi seperti kopra, rotan, damar, dan kayu dari pedalaman Sulawesi.
Pada periode 1910–1920-an, Belanda mulai membangun infrastruktur permanen di Kendari. Tidak seperti pos-pos militer sementara yang didirikan di wilayah konflik, Kendari dikembangkan sebagai pusat administratif dan komersial yang lengkap. Pemerintah kolonial mendirikan kantor controleur (pengawas wilayah), gudang perdagangan, dermaga, dan jalan-jalan yang menghubungkan pelabuhan dengan pedalaman. Bersamaan dengan itu, mulai berdatangan keluarga-keluarga Belanda—istri dan anak-anak para pejabat—yang menjadikan Kendari sebagai tempat tinggal jangka panjang, bukan sekadar pos tugas sementara.
Kehadiran keluarga kolonial ini mengubah karakter pemukiman Belanda di Kendari. Mereka memerlukan fasilitas-fasilitas sipil seperti sekolah, gereja, rumah sakit sederhana, dan tentu saja, tempat pemakaman. Kompleks makam Belanda di Kandai lahir dari kebutuhan ini—sebagai ruang sakral untuk menghormati anggota komunitas kolonial yang meninggal jauh dari tanah air mereka. Pemakaman ini tidak hanya berfungsi religius, tetapi juga sosial, menjadi penanda kehadiran fisik dan simbolik komunitas Eropa di tengah lanskap lokal yang asing.
Lokasi pemakaman dipilih dengan pertimbangan tertentu. Ia berada di kawasan pemukiman Eropa, tidak jauh dari pusat administratif, namun juga agak terpisah—sesuai dengan konsep pemakaman Eropa yang menghendaki ruang tenang dan terpisah dari hiruk pikuk kehidupan sehari-hari. Kawasan Kandai pada masa itu masih relatif lapang, dengan pemandangan ke arah teluk, menciptakan suasana yang tenang dan kontemplatif.
Karakteristik Arkeologis dan Arsitektur Makam
Berdasarkan penelitian Kiki Rukmana & Syahrun (2022) dalam Sangia: Jurnal Penelitian Arkeologi, kompleks makam ini awalnya berjumlah 35 makam, dengan bentuk nisan yang sangat beragam seperti segitiga, kubus, persegi panjang, melengkung, hingga menyerupai monumen. Bahan utamanya berupa batu bata dan semen, mencerminkan gaya konstruksi kolonial akhir. Arah makam pun tidak seragam: ada yang menghadap selatan–utara, timur–barat, dan sebaliknya.
Keberagaman bentuk nisan ini menarik untuk dicermati. Dalam tradisi pemakaman Eropa, bentuk dan desain nisan sering mencerminkan status sosial, afiliasi religius, dan periode waktu pemakaman. Nisan berbentuk segitiga atau obelisk umumnya populer pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, melambangkan aspirasi spiritual yang menjulang ke langit. Bentuk kubus atau persegi panjang yang lebih sederhana biasanya digunakan untuk makam anak-anak atau keluarga dengan status ekonomi menengah. Sementara nisan yang menyerupai monumen—dengan ukuran lebih besar dan detail ornamental—menandakan kedudukan sosial yang lebih tinggi, kemungkinan pejabat tinggi atau pengusaha terkemuka.
Penggunaan batu bata dan semen sebagai material utama konsisten dengan praktik konstruksi kolonial di Hindia Belanda pada periode tersebut. Batu bata merah, yang diproduksi secara lokal atau diimpor, menjadi material standar untuk berbagai jenis bangunan kolonial karena ketahanannya terhadap iklim tropis yang lembab. Semen Portland, yang mulai umum digunakan sejak akhir abad ke-19, memberikan kekuatan struktural dan kemampuan membentuk detail ornamental yang lebih halus dibandingkan batu atau kapur tradisional.
Orientasi makam yang tidak seragam juga mengandung informasi penting. Dalam tradisi Kristen Eropa, makam biasanya diorientasikan timur-barat, dengan kepala menghadap ke barat dan kaki ke timur, melambangkan kebangkitan pada hari kiamat ketika Kristus datang dari timur. Namun variasi orientasi di kompleks Kandai menunjukkan beberapa kemungkinan: pertama, keterbatasan ruang yang memaksa penyesuaian; kedua, perbedaan denominasi Kristen yang memiliki tradisi berbeda; atau ketiga, perubahan konsep dan praktik pemakaman sepanjang periode kolonial yang mempengaruhi tata letak.
Inskripsi pada nisan sering menggunakan bahasa Belanda, beberapa menyebut usia dan tahun kematian, seperti yang terlihat pada nisan yang menunjukkan kemungkinan penghuninya adalah remaja keturunan Belanda berusia 17 tahun. Inskripsi- inskripsi ini, meskipun sederhana, adalah jendela berharga ke dalam kehidupan personal komunitas kolonial. Mereka menyebut nama, tanggal lahir dan wafat, kadang juga hubungan kekeluargaan atau kata-kata memorial yang menyentuh.
Kehadiran makam remaja berusia 17 tahun, misalnya, mengingatkan kita pada realitas keras kehidupan kolonial—terutama bagi keluarga Eropa yang harus menghadapi penyakit tropis, terbatasnya fasilitas medis, dan kondisi higienis yang belum memadai. Angka kematian anak dan remaja di koloni-koloni jauh lebih tinggi dibandingkan di Eropa. Malaria, disentri, demam berdarah, dan berbagai penyakit infeksi lainnya menjadi ancaman konstan. Bagi keluarga kolonial, kehilangan anak adalah tragedi yang harus mereka tanggung jauh dari keluarga besar dan sistem dukungan sosial di tanah air.
Kondisi Saat Ini: Ancaman dan Tantangan Pelestarian
Kondisi makam kini banyak yang rusak: nisan hilang, kijing retak, sebagian tertutup vegetasi, bahkan ada yang tulangnya telah dipindahkan oleh keturunan atau masyarakat sekitar. Kerusakan ini adalah hasil dari berbagai faktor yang saling berinteraksi selama puluhan tahun.
Pertama adalah faktor alamiah. Iklim tropis Kendari dengan curah hujan tinggi dan kelembaban udara yang konstan mempercepat pelapukan material bangunan. Batu bata yang terpapar air hujan secara terus-menerus akan mengalami erosi permukaan, sementara semen akan retak karena perubahan suhu dan penetrasi akar tanaman. Vegetasi liar—rumput, semak, bahkan pohon kecil—tumbuh di sekitar dan bahkan di atas makam, akarnya menembus celah-celah struktur dan mempercepat kerusakan.
Kedua adalah faktor antropogenik atau aktivitas manusia. Perkembangan Kota Kendari yang pesat sejak kemerdekaan Indonesia telah mengubah Kelurahan Kandai dari kawasan pinggiran menjadi wilayah perkotaan yang padat. Lahan-lahan kosong di sekitar kompleks makam bertransformasi menjadi pemukiman penduduk, jalan-jalan, dan bangunan komersial. Tekanan ruang ini kadang membuat kompleks makam terjepit, bahkan sebagian mungkin telah tertutup oleh pembangunan baru.
Aktivitas masyarakat sekitar juga berkontribusi pada kerusakan. Tanpa pengawasan dan kesadaran akan nilai historis, beberapa nisan mungkin dipindahkan atau bahkan diambil materialnya untuk keperluan lain. Praktik pemindahan tulang oleh keturunan atau masyarakat setempat, sebagaimana disebutkan dalam teks, menunjukkan
kompleksitas sosial dalam pengelolaan situs ini. Bagi sebagian orang, terutama yang tidak memiliki keterkaitan historis dengan komunitas Belanda, kompleks makam ini mungkin hanya dianggap sebagai lahan kosong atau bahkan menimbulkan ketidaknyamanan spiritual.
Ketiga adalah absennya upaya pelestarian sistematis. Fakta bahwa situs ini belum ditetapkan sebagai cagar budaya resmi berarti tidak ada kerangka legal dan institusional untuk melindunginya. Tidak ada anggaran untuk perawatan, tidak ada petugas yang bertanggung jawab untuk pengawasan, dan tidak ada sanksi bagi pihak- pihak yang merusak. Dalam konteks prioritas pembangunan daerah, situs-situs kolonial sering kali berada di urutan bawah dibandingkan dengan pembangunan infrastruktur dan fasilitas publik modern.
Nilai Historis dan Arkeologis
Makam Belanda di Kandai memiliki nilai sejarah tinggi sebagai saksi keberadaan komunitas kolonial non-militer di Kendari, terutama keluarga pejabat dan pedagang Eropa yang hidup berdampingan dengan komunitas lokal dan Tionghoa. Keberadaan makam ini memperlihatkan bahwa Kota Lama Kendari bukan hanya pos militer, tetapi juga pusat pemukiman dan aktivitas sipil kolonial.
Dari perspektif sejarah lokal, kompleks makam ini melengkapi narasi pembentukan Kota Kendari modern. Bersama dengan situs-situs lain seperti Sekolah Tionghoa, pelabuhan lama, dan bangunan-bangunan kolonial lainnya, makam Belanda menjadi bagian dari jejak material yang menunjukkan bagaimana Kendari bertransformasi dari permukiman pesisir tradisional menjadi kota kolonial dan akhirnya menjadi ibu kota provinsi modern.
Dari perspektif arkeologi kolonial, situs ini menawarkan data primer tentang praktik pemakaman, konstruksi material, dan kehidupan sosial komunitas Eropa di wilayah pinggiran Hindia Belanda. Kebanyakan penelitian tentang masa kolonial terfokus pada pusat-pusat besar seperti Batavia, Surabaya, atau Makassar. Situs-situs di kota kecil seperti Kendari memberikan perspektif berbeda—menunjukkan bagaimana kolonialisme beroperasi di tingkat lokal, bagaimana komunitas kolonial kecil mengorganisir kehidupan mereka, dan bagaimana mereka berinteraksi dengan populasi lokal.
Data inskripsi pada nisan, jika didokumentasikan dan dianalisis secara sistematis, dapat mengungkap informasi genealogis yang berharga. Siapa saja orang- orang Belanda yang dimakamkan di sini? Dari mana asal mereka di Belanda? Apa posisi dan pekerjaan mereka? Berapa lama mereka tinggal di Kendari? Apakah mereka memiliki keturunan yang masih hidup? Pertanyaan-pertanyaan ini dapat dijawab melalui
penelitian arsip yang menggabungkan data inskripsi makam dengan dokumen-dokumen kolonial yang tersimpan di arsip nasional Indonesia maupun di Belanda.
Lebih jauh lagi, studi komparatif dengan kompleks-kompleks makam Belanda di kota-kota lain di Indonesia dapat mengungkap pola-pola regional dalam praktik pemakaman kolonial. Apakah ada perbedaan signifikan antara makam di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi? Bagaimana faktor-faktor lokal—seperti material yang tersedia, tradisi pemakaman setempat, atau kondisi demografis komunitas kolonial— mempengaruhi bentuk dan organisasi pemakaman?
Urgensi Pelestarian dan Rekomendasi
Sayangnya, situs ini belum ditetapkan sebagai cagar budaya resmi, sehingga kondisinya terus terancam oleh pembangunan permukiman modern dan kurangnya perawatan. Padahal, jika dilestarikan, kompleks makam ini bisa menjadi sumber primer penting untuk penelitian arkeologi kolonial, sejarah lokal Kendari, dan jejak genealogis komunitas Belanda di luar pusat-pusat besar Hindia Belanda.
Upaya pelestarian harus dimulai dengan penetapan resmi sebagai cagar budaya oleh pemerintah daerah atau Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Penetapan ini akan memberikan perlindungan legal terhadap situs dan membuka akses terhadap dana pelestarian. Selanjutnya, perlu dilakukan dokumentasi sistematis—termasuk fotografi, pengukuran arsitektural, dan pencatatan lengkap semua inskripsi—sebelum kerusakan semakin parah.
Pelibatan masyarakat lokal juga krusial. Program edukasi tentang nilai historis kompleks makam dapat menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab kolektif untuk melindungi situs. Masyarakat sekitar dapat diajak menjadi guardian situs, membantu pemeliharaan dasar seperti membersihkan vegetasi liar dan melaporkan tindakan-tindakan yang merusak.
Kerjasama dengan institusi akademik, terutama program studi arkeologi, sejarah, dan arsitektur, dapat menghasilkan penelitian-penelitian mendalam yang tidak hanya bermanfaat secara ilmiah, tetapi juga menghasilkan publikasi dan materi edukatif untuk publik. Mahasiswa dapat melakukan skripsi atau tesis tentang situs ini, yang hasilnya dapat digunakan sebagai dasar kebijakan pelestarian.
Dalam jangka panjang, kompleks makam Belanda di Kandai dapat diintegrasikan ke dalam jalur wisata sejarah Kota Kendari. Bersama dengan Sekolah Tionghoa, pelabuhan lama, dan situs-situs kolonial lainnya, ia dapat membentuk narasi komprehensif tentang sejarah kolonial kota ini. Wisata sejarah semacam ini tidak hanya memiliki nilai edukatif, tetapi juga ekonomi, dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya pelestarian warisan budaya.
Kompleks Makam Belanda di Kandai adalah lebih dari sekadar kumpulan batu nisan tua. Ia adalah arsip material yang menyimpan cerita-cerita pribadi dan kolektif, sukacita dan dukacita, kehidupan dan kematian dari komunitas yang pernah menjadi bagian dari sejarah Kendari. Melindungi dan melestarikannya adalah kewajiban kita terhadap masa lalu, sekaligus investasi untuk pendidikan dan identitas generasi mendatang. Dalam era globalisasi yang cenderung homogen ini, warisan lokal yang unik seperti kompleks makam Belanda menjadi semakin berharga sebagai penanda identitas dan kontinuitas historis Kota Kendari.







