Bangunan ini terletak Jalan Lakidende, Kelurahan Kandai, Kecamatan Kendari, Kota Kendari. Posisi kordinat terletak pada titik 122° 35′ 10.662″ BT dan 3° 58′ 18.694″ LS dengan ketinggian 15 Mdpl. Lokasi bangunan berada Pada salah satu puncak bukit di kawasan kota lama Kendari (sebelah timur dari objek Rumah Jabatan Garnizoens Batalion Detachement Kendari). Lahan bangunan berdenah simetris dengan luas 1080.9 m2. Adapun batas-batas lahan meliputi, sebelah utara berbatasan dengan rumah, sebelah timur berbatasan dengan jalan dan gedung, Sebelah selatan berbatasan dengan jalan dan sebelah barat berbatasan dengan jalan Lakidende dan bangunan Rumah Jabatan Garnizoens Batalion Detachement Kendari (Mess Matahari).
Bangunan Pesanggrahan di Kota Kendari merupakan salah satu peninggalan penting dari masa pemerintahan Hindia Belanda pada abad ke-19. Keberadaannya menjadi saksi bisu perjalanan sejarah kota Kendari sejak masa kolonial hingga masa kemerdekaan Indonesia. Bangunan ini terletak di Jalan Lakidende, yang kini termasuk dalam wilayah administrasi Kelurahan Kandai, Kecamatan Kendari, Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara. Lokasinya yang strategis memperlihatkan bahwa pada masa itu kawasan tersebut telah menjadi salah satu pusat aktivitas pemerintahan dan perdagangan di wilayah pesisir tenggara Pulau Sulawesi.
Sejarah dan Fungsi Awal Bangunan
Pada masa pemerintahan kolonial, Pesanggrahan Kendari berfungsi sebagai tempat tinggal pejabat-pejabat Belanda yang bertugas di wilayah tersebut. Pesanggrahan pada dasarnya adalah istilah yang digunakan untuk menyebut rumah peristirahatan atau tempat singgah bagi pejabat kolonial di daerah-daerah terpencil. Keberadaan bangunan semacam ini merupakan bagian dari sistem administrasi kolonial yang menempatkan para pegawai Eropa di wilayah-wilayah strategis guna mengawasi kegiatan ekonomi dan pemerintahan lokal.
Fungsi pesanggrahan tidak hanya sebatas tempat tinggal, tetapi juga menjadi pusat koordinasi pemerintahan lokal, tempat pertemuan antara pejabat Belanda dengan tokoh-tokoh masyarakat setempat. Hal ini menunjukkan peran penting bangunan tersebut dalam dinamika sosial dan politik masa kolonial di Kendari.
Ciri Arsitektur Kolonial Belanda
Secara arsitektural, bangunan Pesanggrahan Kendari menampilkan gaya khas arsitektur kolonial Belanda yang disesuaikan dengan iklim tropis Indonesia. Bangunan ini menggunakan kayu jati, batu bata, dan genteng sebagai bahan utama. Dinding tebal dari bata merah berfungsi untuk menjaga suhu ruangan tetap sejuk, sementara jendela-jendela besar dan ventilasi tinggi memungkinkan sirkulasi udara yang baik.
Bentuk bangunan yang simetris, langit-langit yang tinggi, serta adanya teras luas di bagian depan dan belakang merupakan ciri umum bangunan kolonial yang menyesuaikan diri dengan kondisi cuaca tropis. Pemilihan kayu jati sebagai bahan konstruksi menunjukkan bahwa bangunan ini dibangun dengan material berkualitas tinggi, mencerminkan status sosial penghuninya sebagai pejabat kolonial.
Keunikan arsitektur Pesanggrahan ini tidak hanya menunjukkan kecanggihan teknik bangunan masa itu, tetapi juga menjadi bukti asimilasi budaya arsitektur Barat dan lokal, di mana unsur kolonial berpadu dengan gaya bangunan tradisional Indonesia yang menekankan pada keterbukaan dan kesejukan.
Perubahan Fungsi Pasca Kemerdekaan
Setelah Indonesia meraih kemerdekaan, fungsi Pesanggrahan Kendari mengalami berbagai perubahan seiring dengan dinamika sosial dan politik yang terjadi. Pada masa awal kemerdekaan, bangunan ini digunakan sebagai markas pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Penggunaan ini menandai perubahan peran bangunan dari simbol kekuasaan kolonial menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan kedaulatan bangsa.
Memasuki periode pemerintahan daerah modern, Pesanggrahan kemudian dialihfungsikan menjadi kantor Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Kota Kendari. Dalam masa ini, bangunan tersebut sempat berperan sebagai salah satu pusat kegiatan kebudayaan daerah, menjadi tempat penyimpanan arsip, dokumentasi, serta pengembangan program pelestarian budaya lokal. Namun, seiring waktu, keterbatasan anggaran dan perhatian terhadap bangunan bersejarah membuat fungsi administratif ini pun akhirnya ditinggalkan.
Kondisi Fisik Saat Ini
Kini, kondisi fisik bangunan Pesanggrahan Kendari dapat dikategorikan cukup memprihatinkan. Banyak bagian bangunan mengalami kerusakan serius. Atap, dinding, pintu, dan jendela sudah rapuh akibat usia dan kurangnya perawatan. Beberapa material seperti kayu jati dan sirap telah lapuk, sementara genteng banyak yang hilang atau rusak. Bahkan, beberapa ruangan penting di dalam bangunan telah runtuh dan tidak dapat difungsikan lagi.
Kerusakan ini diperparah oleh faktor lingkungan seperti kelembapan tinggi dan curah hujan yang besar di wilayah Kendari. Tanpa perawatan yang memadai, struktur kayu mudah ditumbuhi lumut dan jamur, sementara pondasi batu bata melemah akibat erosi dan air tanah. Jika kondisi ini terus berlanjut, bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi ini dikhawatirkan akan hilang sepenuhnya dalam beberapa tahun mendatang.
Upaya Pelestarian dan Tantangan yang Dihadapi
Pemerintah daerah Kota Kendari sejatinya telah melakukan beberapa upaya untuk merawat dan melestarikan bangunan Pesanggrahan ini. Beberapa kali dilakukan pembersihan, perbaikan ringan, serta pendataan sebagai bagian dari program pelestarian cagar budaya. Namun, upaya tersebut sering kali terkendala oleh keterbatasan dana dan sumber daya manusia, terutama tenaga ahli konservasi bangunan bersejarah.
Selain itu, tantangan lain yang cukup serius adalah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian bangunan bersejarah. Banyak warga yang menganggap bangunan tua tidak lagi memiliki nilai guna, padahal situs seperti Pesanggrahan memiliki potensi besar sebagai sumber pembelajaran sejarah, warisan budaya, dan daya tarik wisata heritage. Kurangnya sosialisasi dan pendidikan sejarah lokal turut menyebabkan minimnya partisipasi publik dalam menjaga keberadaan situs ini.
Nilai Historis dan Potensi Pengembangan
Sebagai peninggalan kolonial yang berusia lebih dari satu abad, Pesanggrahan Kendari memiliki nilai historis, arsitektural, dan kultural yang tinggi. Bangunan ini merupakan satu dari sedikit struktur kolonial yang masih tersisa di Kendari dan dapat menjadi identitas sejarah kota. Apabila dikelola dengan baik, bangunan ini dapat dikembangkan sebagai museum kecil, pusat informasi sejarah lokal, atau objek wisata budaya yang menarik minat wisatawan dan peneliti.
Upaya revitalisasi tidak harus menghilangkan keaslian bentuk dan material bangunan. Pemerintah daerah dapat bekerja sama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), perguruan tinggi, serta komunitas pecinta sejarah untuk melakukan dokumentasi, penelitian, dan restorasi yang sesuai dengan prinsip pelestarian heritage. Dengan demikian, bangunan Pesanggrahan tidak hanya diselamatkan secara fisik, tetapi juga dihidupkan kembali sebagai ruang edukatif dan budaya.







