Senin, Juni 1, 2026
  • Kontak
Karang Taruna Kelurahan Kandai
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah & Latar Belakang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Program Unggulan
  • Pelestarian Situs Sejarah
    • Peta & Daftar Situs Bersejarah di Wilayah Kami
    • Program Pelestarian (gotong royong, dokumentasi digital, edukasi masyarakat)
    • Kolaborasi dengan Dinas Kebudayaan / Komunitas
    • Dokumentasi Kegiatan Pelestarian
  • UMKM
    • Direktori UMKM Binaan Karang Taruna
    • Produk Unggulan Lokal (kerajinan, kuliner, jasa, dll.)
    • Program Inkubasi & Pelatihan UMKM
  • Program
    • Sosial & Kemanusiaan
    • Pendidikan & Pelatihan
    • Olahraga & Seni
    • Lingkungan & Kebersihan
    • Kampanye Budaya Lokal
  • Berita
    • Berita Kegiatan Karang Taruna
    • Info Event & Lomba
    • Artikel Inspiratif Pemuda
    • Informasi Bantuan & Program Pemerintah
  • Galeri
    • Foto Kegiatan
    • Video Dokumentasi
    • Arsip Media
  • Kemitraan
    • Mitra Pemerintah & Swasta
    • Komunitas Sejarah & Budaya
  • Login
No Result
View All Result
Karang Taruna Kelurahan Kandai
Home Artikel Inspiratif Pemuda

Situs Sekolah Cina

Admin by Admin
Oktober 20, 2025
in Artikel Inspiratif Pemuda
0
Situs Sekolah Cina
0
SHARES
25
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Dari Jejak Kolonial hingga Warisan Pendidikan Modern

Di tengah hiruk pikuk aktivitas di kawasan pelabuhan Kendari, berdiri sebuah bangunan tua yang menyimpan jejak panjang perjalanan sejarah pendidikan di Sulawesi Tenggara. Gedung yang kini digunakan oleh Institut Mekongga dan SMK Pelayaran Kendari ini, dulunya dikenal sebagai  Sekolah  Tionghoa  atau  Chinese  School,  peninggalan  masa  kolonial  Belanda  yang menjadi saksi hidup interaksi budaya, ekonomi, dan pendidikan di kota pelabuhan ini. Lokasinya yang  strategis  di  Jalan  Martadinata  No.  1,  Kelurahan  Kandai,  membuat  bangunan  ini  tidak sekadar tempat belajar, tetapi juga simbol perubahan sosial yang terjadi selama lebih dari satu abad.

Related posts

WATER RESERVOIR PENINGGALAN BELANDA PADA TAHUN 1928 DI KOTA KENDARI

WATER RESERVOIR PENINGGALAN BELANDA PADA TAHUN 1928 DI KOTA KENDARI

Oktober 20, 2025
Bangunan Pesanggrahan Kota Kendari: Jejak Arsitektur Kolonial dan Tantangan Pelestariannya

Bangunan Pesanggrahan Kota Kendari: Jejak Arsitektur Kolonial dan Tantangan Pelestariannya

Oktober 20, 2025

Kehadiran  komunitas  Tionghoa  di  Kendari  bermula  sejak  awal  abad  ke-20,  seiring dengan  meningkatnya  aktivitas  perdagangan  di  Teluk  Kendari.  Pada  masa  itu,  Kendari merupakan salah satu pelabuhan penting di bagian tenggara Sulawesi, menjadi titik transit hasil bumi seperti kopra, rotan, dan hasil hutan lainnya yang dikirim ke Makassar dan Jawa. Pedagang- pedagang Tionghoa, yang sebagian besar berasal dari wilayah Fujian dan Guangdong, mulai menetap di kawasan sekitar pelabuhan termasuk Kandai, Sodohoa, dan Lapulu untuk menjalankan usaha dagang mereka.

Migrasi gelombang pertama orang Tionghoa ke Kendari terjadi dalam konteks ekspansi ekonomi kolonial yang lebih luas. Pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu sedang gencar membuka jalur perdagangan baru di wilayah timur Nusantara, memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah di Sulawesi dan Maluku. Komunitas Tionghoa, yang telah lama dikenal sebagai pedagang ulung dan perantara ekonomi di berbagai wilayah kolonial, menjadi mitra penting dalam sistem perdagangan ini. Mereka tidak hanya berfungsi sebagai pedagang, tetapi juga sebagai pemodal, pemilik gudang, dan pengelola jaringan distribusi. Banyak di antara mereka yang membangun hubungan erat dengan penguasa lokal maupun administrator kolonial Belanda. Dalam sistem kolonial yang hierarkis, orang Tionghoa menempati posisi menengah  di atas penduduk pribumi dalam hal status ekonomi, namun di bawah orang Eropa dalam hal politik dan hukum. Posisi ambivalen ini membentuk dinamika sosial yang kompleks, termasuk dalam hal pendidikan.

Komunitas Tionghoa tumbuh pesat dan memainkan peranan penting dalam roda ekonomi kolonial. Mereka mendirikan toko, gudang, dan rumah tinggal berarsitektur campuran Tionghoa- Eropa. Di tengah kehidupan yang berkembang itu, muncul kesadaran di kalangan orang Tionghoa akan pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka. Dari sinilah muncul gagasan untuk mendirikan  Sekolah  Tionghoa,  sebuah  lembaga  pendidikan  yang  khusus  diperuntukkan  bagi anak-anak keturunan Tionghoa di Kendari dan sekitarnya. Kesadaran akan pentingnya pendidikan ini tidak terlepas dari tradisi Konfusianisme yang menjunjung tinggi pembelajaran dan literasi sebagai jalan menuju kehormatan dan kemajuan sosial. Bagi komunitas Tionghoa, memiliki sekolah sendiri juga berarti mempertahankan identitas budaya  dan  bahasa  di  tengah  lingkungan  yang  didominasi  oleh  budaya  lokal  dan  kolonial. Sekolah menjadi ruang di mana anak-anak tidak hanya belajar ilmu pengetahuan modern, tetapi juga nilai-nilai tradisional, bahasa Mandarin, dan sejarah leluhur mereka.

Sekolah ini dibangun sekitar tahun 1920-an, di bawah pengawasan otoritas Belanda. Pemerintah kolonial mendukung berdirinya sekolah-sekolah komunitas seperti ini, sebagai bagian dari politik etis dan juga upaya menjaga keteraturan sosial di kota-kota pelabuhan. Sekolah Tionghoa di Kendari menjadi salah satu dari sedikit lembaga pendidikan modern pada masa itu, selain sekolah pemerintah untuk anak-anak pribumi dan sekolah Belanda untuk kaum Eropa.

Pembangunan  sekolah  ini  juga  didukung  oleh  dana  swadaya  komunitas  Tionghoa sendiri. Para saudagar dan tokoh masyarakat Tionghoa di Kendari mengumpulkan dana, membentuk panitia pembangunan, dan berkoordinasi dengan pemerintah kolonial untuk mendapatkan izin dan lahan. Proses ini mencerminkan kekompakan dan solidaritas internal komunitas, sekaligus kemampuan mereka bernegosiasi dengan otoritas kolonial.

Ciri Arsitektur dan Tata Ruang Bangunan Kolonial

Bangunan Sekolah Tionghoa ini memiliki keunikan tersendiri. Secara arsitektural, ia merepresentasikan gaya arsitektur kolonial tropis, dengan adaptasi terhadap iklim lembab dan panas di pesisir Kendari. Dinding bangunan merupakan kombinasi antara bata merah dan kayu jati, yang menjadi ciri umum bangunan kolonial di Hindia Belanda. Bagian depan gedung terdiri atas  dua  lantai,  sementara  bagian  belakangnya  lebih  sederhana,  hanya  satu  lantai,  berfungsi sebagai ruang belajar tambahan dan area administrasi.

Penggunaan material lokal seperti kayu jati menunjukkan adaptasi terhadap kondisi geografis  dan ekonomi  setempat.  Kayu  jati  dipilih karena  ketahanannya  terhadap  rayap  dan

kelembapan tinggi. Sementara bata merah, yang diimpor atau diproduksi lokal dengan teknologi Eropa, memberikan kekuatan struktural pada bangunan. Kombinasi material ini tidak hanya praktis, tetapi juga estetis, menciptakan harmoni visual antara warna merah bata dan cokelat kayu.

Atapnya  terbuat  dari  seng  bergelombang  dengan  rangka  kayu  besar  yang  kokoh, berfungsi menjaga sirkulusi udara tetap baik. Jendela-jendela besar dengan kisi-kisi kayu memungkinkan cahaya alami masuk dan mengurangi kelembapan. Di dinding utara, terdapat tangga kayu yang menjadi penghubung antara lantai dasar dan lantai atas. Tangga ini masih dipertahankan hingga kini, dan menjadi salah satu elemen arsitektur yang paling autentik.

Detail  arsitektur  lainnya  yang  menarik  adalah  penggunaan  ventilasi  silang  yang dirancang secara cermat. Setiap ruangan memiliki bukaan udara di sisi yang berlawanan, memungkinkan angin laut berhembus melewati ruangan dan mendinginkan suhu interior. Tinggi plafon yang mencapai lebih  dari empat meter juga berfungsi untuk mengurangi panas  yang terperangkap di dalam ruangan. Konsep desain ini menunjukkan pemahaman mendalam arsitek kolonial terhadap prinsip-prinsip arsitektur tropis.

Ukuran bangunan cukup besar untuk ukuran sekolah pada masa itu — sekitar 27 meter panjang dan 16,5 meter lebar. Ruang kelasnya memanjang, dengan langit-langit tinggi, menciptakan sirkulasi udara yang baik di tengah iklim tropis. Di halaman depannya, terdapat area lapang yang dahulu digunakan untuk kegiatan upacara, olahraga, dan pertemuan komunitas. Tata ruangnya merefleksikan filosofi pendidikan kolonial: tertib, disiplin, dan hierarkis.

Tata ruang internal gedung dirancang dengan prinsip zonasi yang jelas. Ruang-ruang kelas besar berada di lantai dasar, mudah diakses dan memungkinkan pengawasan yang efektif. Lantai  atas  diperuntukkan  bagi  ruang  guru,  perpustakaan  kecil,  dan  ruang  administrasi. Pemisahan vertikal ini mencerminkan hierarki sosial dalam sistem pendidikan kolonial, di mana guru dan pengelola menduduki posisi simbolis yang lebih tinggi dari murid.

Halaman sekolah yang luas juga memiliki fungsi sosial yang penting. Di sinilah berbagai upacara sekolah digelar, termasuk upacara bendera (pada masa kolonial menggunakan bendera Belanda), kegiatan olahraga, dan acara-acara komunitas Tionghoa seperti perayaan Tahun Baru Imlek atau festival musim semi. Halaman ini menjadi ruang publik mikro bagi komunitas Tionghoa, tempat di mana ikatan sosial diperkuat dan identitas kolektif dibentuk.

Sekolah dan Identitas Sosial di Era Kolonial

Sekolah Tionghoa bukan sekadar tempat belajar, melainkan juga wadah pembentukan identitas sosial bagi komunitas Tionghoa di Kendari. Di sini, anak-anak diajarkan membaca, menulis, berhitung, serta bahasa Belanda dan Mandarin. Kurikulumnya memadukan pengajaran Barat dan Timur, mencerminkan dualitas identitas yang dihadapi oleh orang Tionghoa di Hindia Belanda: antara keinginan untuk berasimilasi dengan sistem kolonial dan tetap menjaga akar

budaya leluhur.

Kurikulum  yang  diterapkan  di  Sekolah  Tionghoa  Kendari  menggabungkan  mata pelajaran modern seperti matematika, ilmu alam, geografi, dan bahasa Belanda dengan mata pelajaran tradisional Tionghoa seperti sastra klasik, kaligrafi, dan sejarah Tiongkok. Pagi hari biasanya diisi dengan pelajaran-pelajaran modern yang diajarkan dalam bahasa Belanda atau Melayu, sementara sore hari digunakan untuk pelajaran bahasa dan budaya Tionghoa.

Para guru di sekolah ini umumnya adalah orang Tionghoa yang memiliki pendidikan formal, baik dari Tiongkok maupun dari sekolah-sekolah Tionghoa di kota-kota besar seperti Batavia (Jakarta), Semarang, atau Surabaya. Beberapa di antaranya juga adalah guru Belanda atau Indo-Eropa yang direkrut khusus untuk mengajarkan bahasa Belanda dan mata pelajaran sains. Keberagaman latar belakang guru ini menciptakan atmosfer pembelajaran yang kosmopolitan, di mana siswa terpapar pada berbagai perspektif dan tradisi intelektual.

Dalam konteks kolonial, sistem pendidikan diatur secara ketat berdasarkan ras dan status sosial.  Sekolah-sekolah  Tionghoa  seperti  ini  berada  dalam  kategori  menengah  â€”  di  bawah sekolah Eropa, tetapi di atas sekolah pribumi. Hal ini menunjukkan bagaimana kolonialisme tidak hanya menciptakan perbedaan ekonomi, tetapi juga membentuk hierarki pendidikan. Namun demikian, sekolah-sekolah Tionghoa memainkan peran penting dalam meningkatkan literasi dan pengetahuan di kalangan masyarakat urban di Hindia Timur. Stratifikasi pendidikan ini juga tercermin dalam kualitas fasilitas dan kurikulum. Sekolah Eropa memiliki gedung yang paling megah, guru-guru terbaik, dan kurikulum yang paling lengkap, dirancang untuk mempersiapkan anak-anak Eropa mengisi posisi administratif dan profesional di koloni. Sekolah Tionghoa, meskipun lebih sederhana, tetap menyediakan pendidikan berkualitas yang memungkinkan lulusannya bekerja sebagai juru tulis, pedagang, atau pengusaha. Sementara sekolah pribumi, yang paling sederhana, hanya memberikan pendidikan dasar yang cukup untuk menciptakan tenaga kerja kasar dan petani yang terdidik. Namun, dinamika ini tidak sepenuhnya kaku. Ada juga interaksi dan pertukaran antara komunitas-komunitas ini. Beberapa anak Tionghoa yang mampu secara finansial melanjutkan pendidikan ke sekolah Belanda untuk mendapatkan akses ke pendidikan yang lebih tinggi. Sebaliknya, beberapa anak pribumi dari keluarga terpandang juga kadang  belajar   di  sekolah   Tionghoa  karena  reputasinya  yang   baik   dalam  mengajarkan perdagangan dan bahasa.

Transformasi Pasca-Kemerdekaan: Dari Sekolah Komunitas ke Aset Nasional

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945, banyak bangunan peninggalan kolonial mengalami perubahan fungsi. Gelombang nasionalisasi yang terjadi pada dekade 1950–1960-an menjadikan berbagai fasilitas kolonial diambil alih oleh pemerintah Republik Indonesia. Gedung Sekolah Tionghoa di Kendari juga mengalami nasib serupa.

Periode pasca-kemerdekaan adalah masa yang penuh gejolak bagi komunitas Tionghoa di Indonesia. Kebijakan-kebijakan pemerintah Indonesia yang baru merdeka, terutama di era Orde Lama dan Orde Baru, membawa dampak signifikan terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya  orang  Tionghoa.  Berbagai  regulasi  dikeluarkan  yang  membatasi  aktivitas  ekonomi mereka, menutup sekolah-sekolah berbahasa Mandarin, dan mendorong asimilasi budaya.

Pada masa itu, banyak warga keturunan Tionghoa mengalami pergeseran status sosial akibat kebijakan politik dan perubahan orientasi nasional. Sekolah-sekolah komunitas Tionghoa di berbagai kota, termasuk di Kendari, tidak lagi beroperasi seperti sebelumnya. Gedung sekolah kemudian dialihfungsikan oleh pemerintah daerah sebagai fasilitas pendidikan umum. Hal ini sejalan dengan semangat “nasionalisasi pendidikan” — yaitu membuka akses pendidikan seluas- luasnya bagi masyarakat tanpa membedakan asal-usul etnis. Proses pengalihan fungsi ini tidak selalu berjalan mulus. Ada resistensi dari sebagian komunitas Tionghoa yang merasa kehilangan institusi penting bagi pelestarian budaya mereka. Namun, dalam konteks politik nasional yang sedang membangun identitas kesatuan Indonesia, kepentingan nasional dianggap lebih prioritas daripada kepentingan komunitas etnis tertentu. Sekolah-sekolah komunitas dianggap sebagai penghambat integrasi nasional dan potensi perpecahan. Namun, meskipun fungsi sosialnya berubah, bangunan sekolah tetap dipertahankan. Nilai historis dan strategisnya diakui oleh pemerintah daerah. Lokasinya yang berada di jantung aktivitas pelabuhan membuat gedung ini tetap relevan untuk digunakan sebagai pusat pendidikan kejuruan dan teknik. Keputusan untuk mempertahankan bangunan ini menunjukkan bahwa, meskipun ada upaya penghapusan simbol- simbol kolonial dan etnis, ada juga pengakuan terhadap nilai praktis dan historis dari warisan masa lalu.

Era Akademi Teknik Kendari (ATK)

Memasuki dekade 1970–1980-an, semangat pembangunan nasional semakin menguat. Di berbagai daerah, termasuk Sulawesi Tenggara, muncul kebutuhan mendesak akan tenaga kerja terampil di bidang teknik dan industri. Dari sinilah lahir Akademi Teknik Kendari (ATK), sebuah institusi pendidikan tinggi yang berfokus pada pengembangan keahlian teknik sipil, mesin, dan elektro. Pendirian ATK adalah bagian dari program pembangunan nasional yang lebih luas di era Orde Baru, yang menekankan pada industrialisasi dan modernisasi infrastruktur. Pemerintah menyadari bahwa untuk mencapai target pembangunan, Indonesia memerlukan ribuan teknisi dan insinyur yang tersebar di seluruh nusantara, tidak hanya terpusat di Jawa. Oleh karena itu, akademi-akademi teknik didirikan di berbagai kota, termasuk Kendari.

Bangunan  bekas  Sekolah  Tionghoa  ini  kemudian  diadaptasi  menjadi  kampus  utama

ATK. Ruang-ruang kelas yang dulunya dipenuhi anak-anak komunitas Tionghoa, kini dipenuhi

mahasiswa-mahasiswa muda dari berbagai kabupaten di Sulawesi Tenggara. Mereka belajar teori dan praktik di ruang yang sama — tempat yang dulunya simbol eksklusivitas, kini menjadi lambang keterbukaan pendidikan bagi semua lapisan masyarakat.

Transformasi fungsi ini juga mengubah lanskap sosial di sekitar bangunan. Jika dahulu kawasan ini didominasi oleh aktivitas perdagangan dan permukiman Tionghoa, kini menjadi kawasan pendidikan dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang etnis dan ekonomi. Warung- warung kopi, toko fotokopi, dan kost-kostan bermunculan di sekitar kampus, menciptakan ekosistem ekonomi baru yang menghidupi ribuan orang.

Peran ATK sangat penting dalam sejarah pembangunan Kendari. Lulusan-lulusannya banyak terlibat dalam proyek infrastruktur daerah, mulai dari pembangunan jalan raya, jembatan, hingga gedung pemerintahan. Gedung tua itu menjadi saksi bagaimana transformasi pendidikan berlangsung — dari pendidikan etnis kolonial menjadi pusat pendidikan teknik nasional. Kurikulum ATK dirancang untuk menghasilkan teknisi praktis yang langsung dapat bekerja di lapangan. Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga melakukan praktik di laboratorium dan proyek-proyek lapangan. Banyak di antara mereka yang kemudian bekerja di Dinas Pekerjaan Umum, perusahaan konstruksi, atau membuka usaha konsultan teknik sendiri. Jejaring alumni ATK menjadi salah satu modal sosial penting dalam pembangunan daerah.

Menariknya,  pihak  pengelola  ATK  tetap  mempertahankan  bentuk  asli  bangunan, termasuk dinding kayu, jendela besar, dan tangga kolonial. Hanya beberapa bagian yang direnovasi, seperti lantai dan atap, untuk menyesuaikan kebutuhan kegiatan akademik modern. Dengan demikian, gedung ini bukan hanya berfungsi sebagai ruang belajar, tetapi juga sebagai situs warisan arsitektur kolonial yang masih hidup dan berfungsi hingga kini. Keputusan untuk mempertahankan bentuk asli bangunan ini patut diapresiasi. Di banyak tempat lain, bangunan kolonial sering direnovasi total atau bahkan dibongkar untuk diganti dengan bangunan baru yang lebih modern. Namun di Kendari, ada kesadaran bahwa bangunan tua ini memiliki nilai yang melampaui fungsi praktisnya. Ia adalah dokumen sejarah yang hidup, yang mampu bercerita tentang masa lalu kepada generasi masa kini.

Institut Mekongga dan SMK Pelayaran Kendari

Seiring   waktu,   ATK   mengalami   restrukturisasi   dan   bergabung   dalam   lembaga pendidikan yang lebih besar, hingga akhirnya bangunan ini kini ditempati oleh Institut Mekongga dan SMK Pelayaran Kendari. Kedua lembaga ini melanjutkan tradisi pendidikan vokasi yang telah melekat sejak masa kolonial. Institut Mekongga, dengan fokus pada pengembangan ilmu terapan, menjadikan gedung ini sebagai simbol kesinambungan antara pendidikan teknik masa lalu dan pendidikan modern masa kini. Nama “Mekongga” sendiri diambil dari nama pegunungan di Sulawesi Tenggara, menunjukkan upaya untuk membangun identitas lokal yang kuat. Institut ini menawarkan berbagai program studi yang relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah,

mulai dari teknik sipil, teknik mesin, hingga manajemen informatika.

Sementara   SMK   Pelayaran   Kendari   memanfaatkan   kedekatan   geografis   dengan pelabuhan untuk melatih siswa dalam bidang kemaritiman, navigasi, dan transportasi laut — bidang yang  sangat relevan  dengan identitas  historis  Kendari sebagai kota  pelabuhan. SMK Pelayaran tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis pelayaran, tetapi juga menanamkan nilai- nilai disiplin, tanggung jawab, dan profesionalisme yang dibutuhkan dalam industri maritim. Keberadaan kedua institusi ini di gedung bersejarah menciptakan simbolisme yang kuat: dari sekolah yang melayani komunitas perdagangan maritim (Tionghoa) di masa lalu, kini menjadi sekolah yang mempersiapkan generasi baru pelaut dan teknisi Indonesia. Ada kontinuitas tematik yang menarik di sini — tema maritim, perdagangan, dan keterampilan teknis yang selalu menjadi benang merah dalam sejarah gedung ini.

Kini, jika melintasi Jalan Martadinata, bangunan tua itu tampak sederhana di antara bangunan baru di sekitarnya. Namun, bagi yang memahami sejarahnya, ia bukan sekadar dinding dan tiang kayu, melainkan monumen hidup yang mencatat perjalanan panjang pendidikan di Kendari: dari masa kolonial, masa nasionalisasi, hingga era modern. Para siswa dan mahasiswa yang kini belajar di gedung ini mungkin tidak sepenuhnya menyadari kedalaman sejarah ruangan tempat mereka belajar. Namun, kehadiran mereka di ruang yang sama dengan murid-murid Tionghoa seratus tahun lalu menciptakan kontinuitas eksistensial yang bermakna. Setiap langkah di tangga kayu tua itu, setiap pembelajaran di ruang kelas dengan jendela besar itu, adalah bagian dari rantai panjang transmisi pengetahuan yang telah berlangsung selama lebih dari seabad.

Previous Post

Bangunan Pesanggrahan Kota Kendari: Jejak Arsitektur Kolonial dan Tantangan Pelestariannya

Next Post

WATER RESERVOIR PENINGGALAN BELANDA PADA TAHUN 1928 DI KOTA KENDARI

Next Post
WATER RESERVOIR PENINGGALAN BELANDA PADA TAHUN 1928 DI KOTA KENDARI

WATER RESERVOIR PENINGGALAN BELANDA PADA TAHUN 1928 DI KOTA KENDARI

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RECOMMENDED NEWS

Situs Sekolah Cina

Situs Sekolah Cina

7 bulan ago
WATER RESERVOIR PENINGGALAN BELANDA PADA TAHUN 1928 DI KOTA KENDARI

WATER RESERVOIR PENINGGALAN BELANDA PADA TAHUN 1928 DI KOTA KENDARI

7 bulan ago
Rumah Controlleur Belanda

Rumah Controlleur Belanda

7 bulan ago
Situs Sejarah Penjara Kolonial

Situs Sejarah Penjara Kolonial

7 bulan ago

FOLLOW US

BROWSE BY CATEGORIES

  • Artikel Inspiratif Pemuda
  • Berita Kegiatan Karang Taruna

POPULAR NEWS

  • Situs Sejarah Penjara Kolonial

    Situs Sejarah Penjara Kolonial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bangunan Pesanggrahan Kota Kendari: Jejak Arsitektur Kolonial dan Tantangan Pelestariannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • WATER RESERVOIR PENINGGALAN BELANDA PADA TAHUN 1928 DI KOTA KENDARI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Peninggalan Sejarah : Baterai Mata

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Makam Peninggalan Belanda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kontak

© 2025 Karang Taruna Kelurahan Kandai - All Right Reserved.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah & Latar Belakang
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Program Unggulan
  • Pelestarian Situs Sejarah
    • Peta & Daftar Situs Bersejarah di Wilayah Kami
    • Program Pelestarian (gotong royong, dokumentasi digital, edukasi masyarakat)
    • Kolaborasi dengan Dinas Kebudayaan / Komunitas
    • Dokumentasi Kegiatan Pelestarian
  • UMKM
    • Direktori UMKM Binaan Karang Taruna
    • Produk Unggulan Lokal (kerajinan, kuliner, jasa, dll.)
    • Program Inkubasi & Pelatihan UMKM
  • Program
    • Sosial & Kemanusiaan
    • Pendidikan & Pelatihan
    • Olahraga & Seni
    • Lingkungan & Kebersihan
    • Kampanye Budaya Lokal
  • Berita
    • Berita Kegiatan Karang Taruna
    • Info Event & Lomba
    • Artikel Inspiratif Pemuda
    • Informasi Bantuan & Program Pemerintah
  • Galeri
    • Foto Kegiatan
    • Video Dokumentasi
    • Arsip Media
  • Kemitraan
    • Mitra Pemerintah & Swasta
    • Komunitas Sejarah & Budaya

© 2025 Karang Taruna Kelurahan Kandai - All Right Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Powered by
►
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
►
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
►
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
►
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
►
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
None
Powered by